Tampilkan postingan dengan label Puisi Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Sosial. Tampilkan semua postingan

Sosok Sholeh Bersahaja

Satu Dua Tiga ...
Hahahahaha ....
Hihihihihi ....
Hehehehehe ....

Grrrr grrrr ....
Uahmmm uahmm ...
Hik hik hik ...
Hua hua hua ...

Sebentar lagi, sebentar lagi
Kita kan menghadapi bersama
Dengan seribu satu ekspresi
Semua mata memandangnya


Akankah semua ini indah?
Akankah semua ini bermakna?
Akankan semua ini menyegarkan?
Yang kutahu satu, hari ini aku harus makan.

Lalu apa .. apa yang kau berikan
Pada kami, rakyatmu yang kelaparan
Uap mulutmu yang kau obral pagi ini
Membuat otakku menjadi pusing

Saat ini kau rayu aku
Dia, kami, kita semua
Saat itu dimana saja kamu?
Kala duduk berkursi empuk, berkantor sejuk.

Kurindu sosok sholeh bersahaja
Bayangmu ada disaat kami nestapa
Yang bersama kami ikut bermimpi
Indonesiaku negeri yang bestari

Ditulis sebagai kritik sosial terhadap calon rakyat yang tidak merakyat di dalam Pemilu 2009.

Selengkapnya...

Kenapa Pelangi Tak Lagi Indah

Kutengok sudut kota
Kutengok sepanjang jalan
Kutengok atap rumah berderet
Kutengok dahan pohon menghijau

Ada merah
Ada biru
Ada kuning
Ada putih .. ada semua


Pelangi .. seperti pelangi
Bermacam warna merubah suasana
Semarak .. memang semarak
Tapi indah tidaklah ada

Kenapa pelangi tak lagi indah
Warna bersatu harusnya megah
Ada yang salah dengan ini semua
Berbagai bendera menjulang disana

Bagaikan kuasa di atas sana
Tak kenal kendali peduli diri
Kapankah pelangi itu indah
Menghiasi hari yang cerah setelah hujan.

Ditulis berdasarkan keprihatinan dengan sistem multipartai.

Selengkapnya...






Titip Salam